Tampilkan postingan dengan label Gigi dan Mulut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gigi dan Mulut. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Oktober 2014

Anodontia (Benih Gigi Tidak Ada)






                                                              Gambar Anodontia

Defenisi
Anodontia adalah suatu keadaan di mana semua benih gigi tidak terbentuk sama sekali, dan merupakan suatu kelainan yang sangat jarang terjadi. Anodontia dapat terjadi hanya pada periode gigi tetap/permanen, walaupun semua gigi sulung terbentuk dalam jumlah yang lengkap.
Sedangkan bila yang tidak terbentuk hanya beberapa gigi saja, keadaan tersebut disebut hypodontia atau oligodontia.


Gejala
Anodontia ditandai dengan tidak terbentuknya semua gigi, dan lebih sering mengenai gigi-gigi tetap dibandingkan gigi-gigi sulung. Pada hypodontia, gigi-gigi yang paling sering tidak terbentuk adalah gigi premolar dua rahang bawah, insisif dua rahang atas, dan premolar dua rahang atas. Kelainan ini dapat terjadi hanya pada satu sisi rahang atau keduanya.

                                        Gambar 2. Hampir seluruh gigi tidak terbentuk

Pengobatan

Pemeriksaan
Diagnosa anodontia biasanya membutuhkan pemeriksaan radiografik untuk memastikan memang semua benih gigi benar-benar tidak terbentuk. Pada kasus hypodontia, pemeriksaan radiografik panoramik berguna untuk melihat benih gigi mana saja yang tidak terbentuk.

Perawatan
Lakukan konsultasi dengan dokter gigi sedini mungkin bila terdapat kecurigaan terjadinya kelainan ini. Perawatan yang biasanya diberikan oleh dokter gigi adalah pembuatan gigi tiruan.


Lain

Penyebab
Anodontia dan hypodontia kadang ditemukan sebagai bagian dari suatu sindroma, yaitu kelainan yang disertai dengan berbagai gejala yang timbul secara bersamaan, misalnya pada sindroma Ectodermal dysplasia. Hypodontia dapat timbul pada seseorang tanpa ada riwayat kelainan pada generasi keluarga sebelumnya, tapi bisa juga merupakan kelainan yang diturunkan.
                                                             Gambar 3. Hypodontia

Amandel - Tonsilitis



Amandel sebenarnya sebutan lain dari tonsil yang merupakan jaringan limfatik yang terletak pada kedua sisi tenggorokan, diatas dan di belakang lidah. Jika terdapat infeksi di dalam tubuh,khususnya pada daerah mulut, maka tonsil yang merupakan bagian dari sistem imun akan membantu memerangi dengan bekerja lebih keras sehingga dapat terjadi pembesaran maupun peradangan tonsil yang disebut dengan tonsillitis.
Penyebab tonsillitis tersering berasal dari virus. Sedangkan bakteri, jamur atau parasit juga dapat menjadi penyebab meskipun lebih jarang terjadi. Penyebaran infeksi melalui udara, tangan dan dari ciuman. Dapat ditemukan pada semua umur terutama pada anak.

Gejala
Gejala umum tonsillitis adalah nyeri tenggorok dan demam. Pada tenggorok dan tonsil biasanya terlihat merah dan membengkak. Pada tonsil dapat terlihat nanah yang menutupi secara penuh ataupun  bercak-bercak.
Tonsilitis yang disebabkan oleh virus akan menghilang dengan sendirinya. Pengobatan akan bertujuan untuk membantu Anda merasa lebih nyaman. Anda dapat mengurangi nyeri pada tenggorok dengan berkumur-kumur dengan air garam ataupun minum teh hangat. Akan tetapi bila tonsillitis Anda disebabkan oleh bakteri, maka Anda perlu pengobatan antibiotik

Pengobatan
Bila, tonsillitis ini terjadi berulangkali, atau tidak membaik dengan pengobatan serta mengganggu aktivitas sehari-hari, maka operasi pengangkatan tonsil/tonsilektomi adalah pilihan yang tepat. Apabila pada keadaan demikian tidak dilakukan tonsilektomi, maka dapat terjadi komplikasi ke daerah sekitarnya- infeksi hidung, sinus, telinga; dan komplikasi jauh seperti infeksi pada jantung, ginjal, mata, sendi maupun kulit.
Karena disebabkan oleh bakteri, maka untuk mengatasinya maka akan diberikan antibiotik. Selain itu dapat pula diberikan obat untuk mengurangi proses peradangan yang terjadi pada amandel tersebut. Untuk operasi pengangkatan amandel, hanya dilakukan jika sudah ada indikasi yaitu berulangnya penyakit cukup sering dan terdapat gejala penyumbatan seperti gangguan tidur. Pasien yang sering  mengalami penyakit ini dalam sebulan sampai beberapa kali, sering mengorok saat tidur, dan sering terbangun karena sesak maka sudah dianjurkan untuk dilakukan operasi pengangkatan amandel.
Infeksi pada tonsil yang disarankan untuk melakukan operasi umumnya disebabkan oleh kuman Streptococcus. Operasi pengangkatan tonsil (tonsilektomi) umumnya dilakukan pada anak-anak. Tonsilektomi diindikasikan pada pasien dengan :

- Tonsilitis akut dengan episode berulang
- Tonsilitis kronik yang persisten dan menyebabkan nyeri tenggorokan
- Terdapat keluhan sleep apneu (sumbatan saluran napas akibat tonsil yang membesar)
- Sulit menelan akibat tonsil yang membesar
- Tonsil yang sangat besar dengan kripta

Jadi tidak semua tonsilitis dioperasi. Tonsil sendiri merupakan salah satu pertahanan tubuh sehingga apabila tidak memenuhi indikasi diatas maka tidak perlu dioperasi. Pembesaran tonsil dan adenoid dapat dicegah dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh, menghindari pencetus alergi, dan menghindari zat yang merangsang pembesaran tonsil dan adenoid seperti MSG dan dingin.

Lain-Lain


                                                              Kondisi tonsilitis / amandel



Untuk mempercepat proses penyembuhan, kebiasaan makan juga perlu dijaga. Konsumsi minuman dingin, es krim, minuman soda, makanan yang digoreng, dan makanan manis harus dihindari. Perbanyaklah minum air putih hangat. Bila ternyata sering berulang, dalam sebulan hingga 3 kali mengalami penyakit ini dan terdapat gangguan saat tidur, segera konsultasi ke dokter spesialis THT untuk dipikirkan langkah selanjutnya apakah perlu dilakukan operasi pengangkatan amandel atau tidak.
 Apabila terdapat peradangan baik faring maupun tonsil, dapat diatasi dengan obat-obatan, baik antiradang, batuk, atau antibiotik bila perlu. Kami sarankan agar Anda berkonsultasi ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan fisik secara langsung dan evaluasi lebih lanjut apabila penyakit ini datang. Namun tentu saja akan lebih baik mencegah dibandingkan mengobati.

Abrasi Gigi


Abrasi gigi disebabkan oleh gaya friksi (gesekan) langsung antara gigi dan objek eksternal, atau karena gaya friksi antara bagian gigi yang berkontak dengan benda abrasif. Abrasi dapat terjadi dari :
  1. Cara atau teknik menyikat gigi yang tidak tepat,
  2. Kebiasan buruk seperti menggigit pensil,
  3. Mengunyah tembakau,
  4. Kebiasaan menggunakan tusuk gigi yang berlebihan diantara gigi,
  5. Penggunaan gigi tiruan lepasan yang menggunakan cengkeram.
Abrasi yang disebabkan oleh penyikatan gigi dengan arah horizontal dan dengan penekanan berlebihan adalah bentuk yang paling sering ditemukan.

Gambaran klinis

Biasanya terlihat sebagai cekungan tajam di daerah sepertiga bawah mahkota gigi, di dekat gusi, dengan takikan berbentuk V pada bagian gingiva (gusi) dari aspek fasial gigi. Bila abrasi terjadi akibat penggunaan tusuk gigi, celah atau takikan ini dapat terjadi di celah gigi. Gigi yang paling sering terkena adalah gigi premolar dan kaninus (taring).
Selain mengganggu penampilan, abrasi gigi dapat menyebabkan gigi menjadi hipersensitif. Pada sebagian orang, di daerah tersebut akan terasa ngilu bila terkena minuman dingin atau bila ada hembusan angin.
Keadaan ini ditandai dengan terbentuknya suatu cekungan pada bagian leher gigi atau bagian gigi yang berdekatan dengan gusi dibagian sebelah fasial dari gigi. Terbukanya lapisan dentin pada bagian yang abrasif akan menyebabkan tereksposenya dentin gigi yang berwarna kuning
 


Pengobatan
Perawatan untuk gigi abrasi tergantung pada keparahannya. Tidak semua keadaan abrasi membutuhkan perawatan. Bila jaringan gigi yang hilang masih sangat sedikit namun terasa keluhan seperti ngilu atau sensitif, dokter gigi akan memberikan perawatan fluor yang dapat digunakan sendiri oleh pasien di rumah, bisa dalam bentuk gel atau obat kumur. Atau bisa berupa fluor yang dioleskan langsung pada gigi oleh dokter gigi.
Bila jaringan keras gigi sudah banyak yang hilang seperti gambar di atas, dapat dilakukan penambalan dengan bahan tambal sewarna gigi seperti resin komposit. Dokter gigi juga memberikan semacam pernis yang mengandung fluor untuk menutupi bagian tersebut, sehingga rasa ngilu akan berkurang dan hilang.
Pemilihan pasta gigi yang tepat juga dapat memberi dampak yang signifikan terhadap berkurangnya rasa ngilu. Dari penelitian diketahui bahwa pasta gigi yang mengandung potassium sulfat dapat menutup tubuli dentin sehingga rangsang dari luar dapat dihambat.
 
Lain-Lain

Guna mengurangi dampak dan perawatan kondisi abrasi, maka diperlukan usaha untuk mengurangi melakukan kebiasaan-kebiasaan yang semakin mencetuskan atau memperparah proses abrasi gigi. 
Beberapa kebiasaan yang semakin memperparah abrasi yang harus dikurangi:
 
- Kurangi kebiasaan menggigit-gigit benda keras. Seringkali tanpa disadari kebiasaan menggigit pulpen atau
   pensil maupun alat tulis lainnya tidak sengaja dilakukan. Kebiasaan inilah yang harus dicermati untuk
  dikurangi.
- Kebiasaan menyikat gigi terlampau keras juga dapat memperparah dan mencetuskan kondisi abrasi gigi.
   Dalam hal ini, sikapilah dengan melakukan teknik menyikat gigi yang baik dan benar sesuai dengan yang
  dianjurkan. Dalam mendukung hal ini, pemilihan jenis sikat gigi juga menentukan, seperti memilih jenis sikat
  gigi yang lembut guna mencegah kerusakan lapisan gigi yang berlanjut menjadi abrasi gigi.